Rabu, 18 Juni 2008

EURO

Wajah Indonesia di Balik Gebyar Euro 2008


Rabu, 18 Juni 2008 | 10:38 WIB

ANDA dari Indonesia? Di sini ada relawan dari Indonesia, mungkin dia bisa membantu Anda selama meliput turnamen ini,” kata petugas yang menerbitkan kartu akreditasi Piala Eropa 2008 untuk Kompas di Stadion Stade de Geneve, Geneva, 7 Juni lalu. Dia benar. Tak jauh dari meja petugas itu, perempuan tipikal wajah Indonesia sedang melayani wartawan berambut pirang.

Dina Hanggraini (22), begitu perempuan itu memperkenalkan diri. Ia menjadi relawan di Pusat Akreditasi Geneva dengan tanggung jawab memastikan akreditasi-akreditasi yang disetujui Asosiasi Sepak Bola Eropa (UEFA) jatuh pada orang tepat. Ia adalah salah satu dari 5.000 relawan di delapan kota di Austria dan Swiss penyelenggara Piala Eropa 2008.

”Saya penasaran dan ingin belajar cara mengelola event besar sepak bola,” tutur Dina, mengawali pembicaraan. ”Sepak bola di negeri kita selalu onar, sementara di sini (Eropa) tidak. Padahal, di sini ada juga holigan, tetapi pemerintah bisa mengelolanya.”

Ia mengajukan lamaran sebagai relawan setahun lalu. Sebelum dinyatakan lulus, mahasiswi tahun kedua program master biologi molekuler Université de Genève itu harus melewati beberapa tahapan seleksi. Ia juga harus bersaing dengan belasan ribu relawan dari seluruh dunia. Situs resmi Piala Eropa 2008 menyebutkan, panitia menyeleksi 17.644 pelamar dari 150 negara, mulai dari Brasil, Kosta Rika, Senegal, Uganda, Togo, Nepal, dan Indonesia.

”Saya hanya bermodal pengalaman dan keberanian. Saya pernah menjadi volunteer pada turnamen basket antaruniversitas se-Eropa tahun 2007,” kata Dina. UEFA menetapkan syarat minimal bagi para relawannya, yakni berusia 18 tahun ke atas dan mampu berbicara dalam tiga bahasa: Inggris plus Jerman, Perancis, atau bahasa lainnya dari 16 tim peserta Piala Eropa 2008.

”Saya bangga bisa mewakili Indonesia di turnamen bergengsi ini,” ujar alumnus Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Indonesia itu. ”Sepak bola Indonesia terpuruk dan tak mungkin tampil dalam turnamen besar. Dengan kehadiran saya, Indonesia setidaknya punya wakil di ajang sebesar ini.”

Jaket dan celana

Dina memaparkan, sejak diterima sebagai relawan pada April lalu, ia harus bekerja 2-4 jam per hari dalam 3-4 hari per minggu. Saat ada pertandingan, jam kerja itu meningkat menjadi lima jam per hari. Ia mengaku tidak mengalami kesulitan berarti mengikuti ritme dan standar kerja UEFA.

”Selain relasi bertambah, sedikit-banyak saya menjadi tahu beberapa hal cara mengelola turnamen besar. Soal penanganan suporter, misalnya,” papar Dina memberi contoh.

Perempuan yang tinggal di BSD Serpong itu mengaku puas meski tidak dibayar sepeser pun. ”Hanya jaket dan celana ini,” ujarnya tersenyum saat ditanya soal upah.

Di tangan Dina dan relawan-relawan lainnya, penyelenggaraan Piala Eropa 2008 bergantung. ”Mereka para duta kami. Antusiasme dan kegembiraan mereka sungguh menjadi iklan turnamen ini,” kata Direktur Turnamen di Swiss, Christian Mutschler, dalam situs Euro 2008.

Tidak ada komentar: